Skip to main content

Posts

Puisi : Tanah Air kami, Harga Diri Kami

Tanah Air kami, Harga Diri Kami Karya : N. Yumna S.
Dari negeri seberang mereka datang Menembus Tanjung Harapan Dengan kapalkapal besar 72 tahun silam
Dengan rombongan mereka datang Namun niat berdagang terabaikan Hati mereka mulai penuh keserakahan Mereka curang!
Hati mereka iblis Menguasai tanah orang hingga habis.
Siapa yang tinggal diam? Siapa yang berpangku tangan?
Ini tanah kami. Kehormatan kami

Dengan gejolak kemarahan, kami menyerang Tak peduli lawan membawa senapan Hanya bambu runcing yang jadi saksi Dan keriskeris di dada kami
Ini harga diri. Meskipun harus mati Dan peluru menembus detak nadi Kami tak peduli
Hingga darah penghabisan, Tetap maju di barisan terdepan Menyeru kemerdekaan Menuntut kebebasan
Ini harga diri Sekalipun nyawa di ujung tombak Atau dada kena tembak Kami tak peduli
Hanya teriakanteriakan lantang Merobek cakrawala Allahuakbar! Merdeka! Sekalipun nyawa jadi taruhan, mati kami penuh kehormatan
72 tahun silam. Dan lelah kami terbayarkan...
Wahai... Kini ka…
Recent posts

Membalas Insiden Merah Putih Terbalik : Untukmu Wahai Tetangga

Untukmu Wahai Tetangga, Karya : N. Yumna S.
Bendera negara kami, bukanlah mainan... Melainkan kehormatan
Yang butuh beribu nyawa tergadaikan
Pertumpahan darah..
Lelah yang terabaikan
;hanya untuk berkibar
Dan sekarang,
Seenaknya kau hina bendera kami atas nama ketidaksengajaan?
Kami Indonesia, bukan Polandia.
Butuh perjuangan untuk merdeka
Kami merah putih, bukan putih merah
Yang kami perjuangkan dengan susah payah
Tahukah kau Tuan,
Bendera negara kami, adalah perjuangan
Sekalipun nyawa terpisah dari raga,
kami rela
Meski harus menggadaikan nyawa
Kami tak peduli,
Karena ini harga diri
Dan kini,
Seenaknya kau ludahi bendera kami atas nama KETIDAKSENGAJAAN?
Tunggulah Tuan...
Waktu akan terus berjalan
Dan lihatlah...
sejarah yang akan balas dendam.


Jonggol, 22 Agustus 2017

Ini Tanah kami!

A'thouna thufuli!

Berikan kami kedamaian!Berikan kami hak untuk bermain!dan tempat untuk belajar!Kenapa kau merampas tanah kami?Merebut kehormatan kami?Menginjak harga diri kami sebagai muslim?

Ini tanah kami!
Tak malukah kau wahai penjajah laknatullah?!
Kenapa kau bantai Ibu Bapak kami?teman-teman kami?
Merobek bendera kami?Mengambil Al-Aqsa kami?!

Matilah kau Israel Laknatullah!Biar batu-batu dan ketapel yang menjadi saksi kekejaman kau,

Seorang anak-anak memegang batu kecil,dengan pria bersenjata di atas tank.Siapakah yang lemah dan yang kuat sekarang?Kau,atau kami?

#SavePalestine
#SaveAlAqsa
#SaveChildern

Palestine will be free.

Secarik Surat dari Anak-anak Palestine

Aku iri denganmu
Ketika kau terbangun oleh suara merdu Ibumu Disuguhi sepiring roti dan susu Lalu sebuah bus menjemputmu menuju tempat menimba ilmu
Sedangkan kami?
Kemana Ibuku? Dimana Ayahku? Dan pagi yang seharusnya penuh canda tawa adik-adikku?
Fajar kami hanya disambut suara rudal dan peluru. Sirine ambulance yang datang menjemput tangis anak-anak mencari ibu. Raung senjata memecah tangis pilu ;bahkan sang surya takut tersenyum padaku.
Ah, sungguh aku iri Kau punya tempat mengadu yang terkadang tak kau syukuri Yang menyambutmu sepulang bermain Dan seorang ayah, yang mengantarmu sekolah
Namun, kenapa mereka menyakiti ibuku? Menembak ayahku? Kenapa mereka terjunkan rudal untuk mengambil teman-temanku? Merampas tanahku, Tempat ibadahku.
Kemanakah keadilan itu? Kenapa kami tak diberikan hak yang diberikan padamu?
Apakah hanya karena kami anak-anak Palestina? Atau... Apakah karena kami menganut agama yang berbeda?  ` Siangmu dipenuhi canda tawa, Bermain, bersuka ria,
Sedang kami, adaka…

Historical : Sejarah dari Sebuah Rumah Tua di Atas Bukit

Ibuku di depan rumahnya dulu
Aku bisa melihat Mbah Putri berjongkok di depan tungku. Di belakangnya beberapa gadis kecil dan dua orang anak lelaki berkumpul untuk menunggu masakan matang sembari berdiang menghangatkan badan, sedang di luar, bukit-bukit berkabut menggigil dipeluk udara senja.
Dan seorang gadis kecil berambut seperti anak laki-laki tengah berlarian menutup semua jendela di rumah besar berdinding anyaman bambu di atas bukit itu. Sembari memandang sang surya yang turun ke peraduannya. Terkadang, ia bertanya-tanya, sedang apa bola api itu bersembunyi di bebukitan? Apakah dia sedang bermain petak umpat dengan sang bulan?
Setelahnya, ia akan berlari kembali ke dapur berlantai tanah untuk bergabung bersama saudara-saudaranya. Ya, itu tugasnya sebelum malam turun di langit petang. Menutup seluruh jendela yang jumlahnya sangat banyak.
Juga, aku bisa melihat Mbah Kakung sedang menggiring ayam-ayamnya memasuki kandang di samping pekarangan.
Atau seorang anak laki-laki yang sedang meng…

Mbah Kakung dan KKPK Rahasia Aisyah

Membaca tidak memandang umur
Mbah Kakung dan buku karyaku, KKPK Rahasia Aisyah.

Ternyata Mbah suka banget baca buku. Buktinya buku-buku dongeng yang dibawain Ibu buat adikku Aziz Azzam malah habis dilahap Mbah.

Herannya dan yang aku takjub dari Mbah itu masih bisa baca dengan jelas tanpa harus memakai kacamata, padahal umurnya sudah 81 tahun. Wihh hebat kan?

Dan rencananya nanti aku dan ibu akan mengirimkan buku-buku buat Mbah. <3

Semoga nanti bisa baca buku karya Yumna selanjutnya ya... Aamiin yaa Allah... ^_^


Mimpi

Aku punya segudang mimpi. Impian yang tinggi, dan saking tingginya, rasanya aku hampir terjatuh oleh ejekan mereka. Ah tidak. Itu dulu. Kini aku tak pernah lagi mendengar tawa mereka ketika aku menceritakan harapan sepuluh tahun kelak. Apakah karena aku memilih diam? Bungkam, tak lagi bercerita tentang impianku keliling dunia. Atau... Apakah karena kata-kataku yang hanya dianggap lelucon itu sudah bukan hal baru lagi?
Aku memang bukan orang berada seperti kalian. Tapi, aku akan berusaha menggapainya hingga kalian tak bisa berkata lagi. Bukankah Allah telah menjanjikan bahwa orang-orang yang berusaha akan sukses? Man jadda wa jadda. Meski hanya berbekal mantra itu untuk terus melangkah. Aku janji akan terus mendaki hingga ke puncak kesuksesan. Dan untuk kalian, orang2 yang telah meremehkan. Jika tengah membaca ini... Genggamlah janjiku erat.

Tak perlu tahu lagi impian-impian yang tengah kurajut kini, percuma saja, karena seperti yang sudah-sudah, kalian akan menyambutnya dengan tawa.
Imp…