Ibuku di depan rumahnya dulu
Aku bisa melihat Mbah Putri berjongkok di depan tungku. Di belakangnya beberapa gadis kecil dan dua orang anak lelaki berkumpul untuk menunggu masakan matang sembari berdiang menghangatkan badan, sedang di luar, bukit-bukit berkabut menggigil dipeluk udara senja.

Setelahnya, ia akan berlari
kembali ke dapur berlantai tanah untuk bergabung bersama saudara-saudaranya.
Ya, itu tugasnya sebelum malam turun di langit petang. Menutup seluruh jendela
yang jumlahnya sangat banyak.
Juga, aku bisa melihat Mbah
Kakung sedang menggiring ayam-ayamnya memasuki kandang di samping pekarangan.
Atau seorang anak laki-laki
yang sedang mengisi minyak tanah ke dalam lampu minyak.
Serta, ketika semua anggota
keluarga berkumpul di meja makan sederhana ditemani cahaya lampu minyak dan
canda tawa. Meski meja itu bukan keluaran pabrik ternama, melainkan hanya
keluaran 'pabrik tangan'. Meja sederhana, namun mereka tidak perlu sesuatu yang
mahal untuk menjadi saksi bisu kehangatan itu.
30 tahun silam.
Kau tahu siapa gadis kecil itu?
Ia Ibuku.
Kau tahu siapa gadis kecil itu?
Ia Ibuku.
Teko bunga-bunga yang masih disimpan oleh Budeku. Kau tahu? Sekalinya jatuh malah lantainya yang pecah.
Juga tungku yang hingga kini masih ada, sampai batok kelapanya juga.
Kursi-kursi rotan, meja televisi buatan Mbah Kakung.
Bahkan sepeda kepunyaan Omku saat kecil. :3
Ruangan yang sekarang dijadikan dapur dan bagian dari rumah Budeku yang menghadap langsung ke arah bukit-bukit hijau.
senang sekali masih bisa melihatmu berdiri gagah di atas dataran tinggi Wonosobo.
Terimakasih sudah memutar kembali kaset sejarah
walau kini tinggal kenangan nan indah.
Dan tiang serta kerangka rumah itu dibangun sendiri oleh Mbahku :)
Dan tiang serta kerangka rumah itu dibangun sendiri oleh Mbahku :)
Bagus sekali tulisannnya, Naila.
ReplyDeleteIni bisa jadi ide cerita juga.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, Kak Bambang. ^^
DeleteWaah iya kah? Alhamdulillah, terima kasih. :D