Skip to main content

Historical : Sejarah dari Sebuah Rumah Tua di Atas Bukit


Ibuku di depan rumahnya dulu

Aku bisa melihat Mbah Putri berjongkok di depan tungku. Di belakangnya beberapa gadis kecil dan dua orang anak lelaki berkumpul untuk menunggu masakan matang sembari berdiang menghangatkan badan, sedang di luar, bukit-bukit berkabut menggigil dipeluk udara senja.

Dan seorang gadis kecil berambut seperti anak laki-laki tengah berlarian menutup semua jendela di rumah besar berdinding anyaman bambu di atas bukit itu. Sembari memandang sang surya yang turun ke peraduannya. Terkadang, ia bertanya-tanya, sedang apa bola api itu bersembunyi di bebukitan? Apakah dia sedang bermain petak umpat dengan sang bulan?

Setelahnya, ia akan berlari kembali ke dapur berlantai tanah untuk bergabung bersama saudara-saudaranya. Ya, itu tugasnya sebelum malam turun di langit petang. Menutup seluruh jendela yang jumlahnya sangat banyak.

Juga, aku bisa melihat Mbah Kakung sedang menggiring ayam-ayamnya memasuki kandang di samping pekarangan.

Atau seorang anak laki-laki yang sedang mengisi minyak tanah ke dalam lampu minyak.

Serta, ketika semua anggota keluarga berkumpul di meja makan sederhana ditemani cahaya lampu minyak dan canda tawa. Meski meja itu bukan keluaran pabrik ternama, melainkan hanya keluaran 'pabrik tangan'. Meja sederhana, namun mereka tidak perlu sesuatu yang mahal untuk menjadi saksi bisu kehangatan itu.

30 tahun silam. 

Kau tahu siapa gadis kecil itu?
Ia Ibuku.

Ceret tembaga, aku tahu pasti ada jejak tangan Mbah Putri di sana.
Teko bunga-bunga yang masih disimpan oleh Budeku. Kau tahu? Sekalinya jatuh malah lantainya yang pecah.

Juga tungku yang hingga kini masih ada, sampai batok kelapanya juga.

Kursi-kursi rotan, meja televisi buatan   Mbah Kakung.                                                                                   

Bahkan sepeda kepunyaan Omku saat kecil. :3

Ruangan yang sekarang dijadikan dapur dan bagian dari rumah Budeku yang menghadap langsung ke arah bukit-bukit hijau.


Aku


Hai rumah kunoku,
senang sekali masih bisa melihatmu berdiri gagah di atas dataran tinggi Wonosobo.

Terimakasih sudah memutar kembali kaset sejarah
walau kini tinggal kenangan nan indah.

Dan tiang serta kerangka rumah itu dibangun sendiri oleh Mbahku :)

Comments

  1. Bagus sekali tulisannnya, Naila.
    Ini bisa jadi ide cerita juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, Kak Bambang. ^^

      Waah iya kah? Alhamdulillah, terima kasih. :D

      Delete

Post a Comment

Kotak Komentar >> Tinggalkan jejakmu berupa kritik, saran, atau komentar yang mendukung. Terima kasih.

Popular posts from this blog

Syarat-Syarat Pengiriman Naskah KKPK

Untuk kalian yang ingin mengirim naskah ke penerbit, Dar! Mizan menerima naskah anak-anak nih!. Yaitu KKPK alias Kecil-Kecil Punya Karya. Yang belum tahu persyaratan mengirim naskah KKPK, ini dia syarat-syarat yang harus diperhatikan : Ketentuan Naskah novel dan kumpulan cerpen:
1. Usia penulis maksimal 12 tahun.

2. Jumlah halaman cerita minimal 45 halaman, maksimal 50 halaman. (tidak termasuk kata pengantar, ucapan terima kasih, daftar isi, halaman profil, dll).

3. Diketik kemudian diprint di kertas HVS A4, 1.5 spasi, Font: Times New Roman Besar Font: 12 pt.
Dikirim ke alamat Penerbit Mizan,  Jl. Cinambo No.135 , Cisaranten Wetan, Ujung Berung, Bandung 40294

4. Karya yang dikirim adalah karya asli perseorangan. Tidak boleh menjiplak dan mengadaptasi dari karya orang lain.

5. Karya tidak boleh menyinggung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan), kekerasan, ketidaksopanan terhadap teman, orang tua, dan guru.

6. Karya disertai dengan biodata lengkap: : nama, tempat tgl. lahir…

Tragedi Burung Perenjak dan Burung Kedasih

Teman-teman, aku ingin bercerita tentang burung kedasih yang menitipkan anaknya ke burung perenjak. Ini adalah tragedi yang menguras perasaan dari dunia burung. Ikutilah kisah burung prenjak dan burung kedasih ini. Dunia ilmu pengetahuan mengenalnya sebagai fenomena parasit sarang.
Burung kedasih tidak bisa membuat sarang. Kelemahan itu ditambah lagi dengan tidak mau memelihara anaknya. Maka ketika ingin bertelur, burung kedasih mencari burung yang akan menjadi inang bagi anaknya. Seringkali incarannya adalah burung prenjak.
Ketika burung prenjak masih di sarang, burung kedasih mengintipnya. Baru ketika burung prenjak terbang untuk mencari makan, burung kedasih segera bertelur di sarang burung prenjak. Coba perhatikan! Telur burung kedasih lebih besar dibanding burung prenjak. Tapi namanya juga burung, prenjak tidak curiga ada satu telur yang berbeda di antara telur-telurnya. Dia tidak menghitung berapa jumlah telur saat dia meninggalkannya.
Telur burung kedasih yang lebih besar, lebih …

Syarat Kirim Naskah ke Fantasteen

Buat kamu yang sudah gatal pengen nerbitin novel Fantasi, ayo, kirim ke redaksi Fantasteen DAR! Mizan...

Caranya gampang kok, ikuti aja ketentuan dibawah ini  : Kirim naskah dengan tebal halaman 75-100 kertas A4 spasi 1,5  (hindari penggunaan jenis font Comic Sans)Usia untuk penulis Fantasteen adalah 13-18 tahunFantasteen tidak menerima naskah-naskah bertema RomanceKirimkan naskah yang sudah diketik rapi dan di-printke alamat redaksi mizan via pos (Mizan tidak terima naskah via email)           Dilengkapi dengan :
 Biodata lengkap (dengan nomor yang bisa dihubungi, dan alamat e-mail)Sinopsis ceritaUcapan terima kasihFoto terbaru pengarang Naskah dalam bentuk digital Naskah yang diterbitkan adalah naskah terbaik setelah melaluiseleksi dan evaluasi selama maksimal 3 bulan. Naskah yang tidak layak terbit, akan kita kabari via surat atau teleponNaskah yang dikirimkan tidak bisa dikembalikan, kecuali disertai dengan perangko Kirim ke : Redaksi Fantasteen Mizan Jalan Cinambo No. 135 Cisaranten W…